After The Sunset
Night is waiting, The darkness is waiting, Moon is waiting, Sunrise is waiting, Morning is waiting, and The day is waiting.
The Simplething About Me
Blog Archive
- ▼ 2009 (15)
Rubrik
Teman Blogger
-
Promosi di Sini : Ide Buruk !!2 minggu yang lalu
-
Mbak Ana: "Kamu Anak 2009 Ya?"1 minggu yang lalu
-
iPod touch + Edu Apps = Happy Students2 minggu yang lalu
-
The final exam has been passed, what will happen next?11 bulan yang lalu
-
SMART JUKU akan terkenal tidak lama lagi:)4 minggu yang lalu
-
-
Kanker yang Membuat Aku Semakin Kanker8 bulan yang lalu
-
Menanti Duel Kawasaki ER-6N vs Suzuki Gladius4 jam yang lalu
-
-
Nahdhi Pindah Tugas7 bulan yang lalu
-
Facebook with Flock Browser2 bulan yang lalu
-
mAo tAu rAsAnYA PaRttiMe di sWaLaYaN KoPmA11 bulan yang lalu
-
PLAGIAT2 hari yang lalu
-
ym8 bulan yang lalu
-
-
PANGLIMA TNI : HARUS MAMPU MENYIAPKAN KEMAMPUAN KEKUATAN UDARA1 bulan yang lalu
-
Kemonotonan Bisnis era 2000 an5 minggu yang lalu
Minggu, 25 Oktober 2009
Menulis Lagi
Rabu, 24 Juni 2009
Bag 1 "Susahnya Menulis"
Rabu, 01 April 2009
Apakah Aku Sanggup Menghadapi Ujian Selama 3 Minggu?
Total waktu ujian 3 minggu lebih sehari. Meski ada beberapa hari tanpa ujian tapi tetep aja gak ngaruh. Karena liburnya cuma karena ada Pemilu, Tanggal Merah, dan Weekend. Selebihnya full. Wah edan-edanan poko'e... Aku juga harus bisa bagi waktu belajar antara yang Hubungan Internasional dengan yang Geofisika. Intinya otak kanan dan kiri bekerja semua, jadi gak berat sebelah deh, hehehe,,,
Aku sedikit pusing buat mengahadapi jadwal di hari senin besok tanggal 6 April, ujian mata kuliah Metode Ilmu Politik yang mulai jam 08.00 berbenturan dengan ujian mata kuliah Kalkulus II yang mulai jam 07.30. Kalau di UGM jelas gak bisa di nego lagi. Tidak akan ada ujian ulang dengan alasan apapun. Sedang di UMY sebenarnya aku sudah pernah membicarakan hal ini dengan Bapak Tulus Warsito, kata beliau boleh asal ada surat pengantar dari TU fakultasku di UGM. It's OK, tapi aku belum sempat ngurusnya padahal tinggal beberapa hari lagi buat ujian. Huff,,, lelah bathiniah ni,,,
Bingung juga si menghadapin ini semua, tapi santai ajalah. Kalau di buat pusing juga entar malah jadi repot. Pokoknya aku cuma berharap otakku gak kepanasan terus nge-hang,,, gak tahu tulisannya bener atau salah. Biarin aja. Sanggup gak sanggup menjalani ujian selama 3 minggu, pokoknya aku harus sanggup, meski campur mual-mual lihat hapalan setumpuk plus lihat angka-angka dengan double atau triple integral biar aja deh,,, hehehe... Yang penting Selalu Berjuang dan Tetap Semangat.
Kamis, 26 Maret 2009
Aku Panik
Minggu, 22 Maret 2009
UMY VS UGM
Sabtu, 21 Maret 2009
Mengapa Aku Suka Mengumpat?
Minggu, 15 Maret 2009
Terpikat Dengan Lagu "Cinta Terlarang" The Virgin
Kira-kira aku bakal terpikat lagu ini berapa lama ya? Kalo "We Will Not Go Down"-nya Michael Heart sampe lebih dari sebulan aku terpikatnya, sekarang juga tetap masih terpikat...
Lagu "Cinta Terlarang" dari The Virgin aku unduh dari www.misshacker.com, bagi yang suka juga silakan diunduh di website tersebut. Tapi ilegal gak ya? tapi aku udah terlanjur si,,, Ni dia lirik dari "Cinta Terlarang"...
CINTA TERLARANG
Oleh The Virgin
Kau kan slalu tersimpan di hatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya
Sungguh mencintainya
Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya
Mengapa cinta ini terlarang
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya
Sungguh mencintainya
Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya
Kamis, 05 Maret 2009
Tugas Kewarganegaraan, Memiliki Rasa Kewarganegaraan Yang Tinggi

Setiap kali mendengar kata kewarganegaraan, secara tidak langsung otak merespon dan mengaitkan kewarganegaraan dengan pelajaran kewarganegaraan pada saat sekolah, dan mata kuliah kewarganegaraan pada saat kuliah. Bisa jadi kata kewarganegaraan di dalam memori otak tersimpan kuat karena setiap tahun dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas ada pelajaran kewarganegaraan yang harus dipelajari, dan ternyata saat kuliah juga ada.
Mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan bagi sebagian mahasiswa tidak ubahnya mempelajari Pancasila tahap dua, atau bahkan tidak jauh berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila dan Sejarah Bangsa. Beberapa materinya memang berkaitan ataupun sama. Itulah mengapa banyak yang tidak suka ataupun tidak mau mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan. Bisa jadi karena bosan ataupun dianggap tidak penting seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan lainnya. Pada akhirnya Pendidikan Kewarganegaraan selalu saja di anak tirikan dalam setiap pembelajaran.
Selanjutnya ada hal yang membuat banyak orang dan terutama mahasiswa enggan mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan. Ketika zaman Orde Baru Pendidikan Kewarganegaraan yang bersumber langsung dari Pancasila dan UUD dijadikan sebuah alat untuk mengambil keuntungan bagi beberapa pihak. Bukannya sebagai warga negara yang taat dan melaksanakan Pancasila, tapi beberapa pihak tersebut malah menjadikan Pancasila, UUD, dan Pendidikan kewarganegaraan untuk melegalkan apapun keinginan mereka. Akhirnya banyak yang tidak percaya lagi dan kemudian berkembang menjadi keengganan untuk mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan tersebut.
Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan
Padahal sesungguhnya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan seharusnya menjadi hal yang lebih utama di banding dengan pendidikan yang lainnya. Pendidikan Kewarganegaraan lah yang mengajarkan bagaimana seseorang menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Karena kewarganegaraan itu tidak dapat diwariskan begitu saja melainkan harus dipelajari dan di alami oleh masing-masing orang. Apalagi negara kita sedang menuju menjadi negara yang demokratis, maka secara tidak langsung warga negaranya harus lebih aktif dan partisipatif. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus memepelajarinya, agar kita bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi negara.
Pendidikan Kewarganegaraan juga mengajarkan bagaimana warga negara itu tidak hanya tunduk dan patuh terhadap negara, tetapi juga mengajarkan bagaimana sesungguhnya warga negara itu harus toleran dan mandiri. Pendidikan ini membuat setiap generasi baru memiliki ilmu pengetahuan, pengembangan keahlian, dan juga pengembangan karakter publik. Pengembangan komunikasi dengan lingkungan yang lebih luas juga tecakup dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Meskipun pengembangan tersebut bisa dipelajari tanpa menempuh Pendidikan Kewarganegaran, akan lebih baik lagi jika Pendidikan ini di manfaatkan untuk pengambangan diri seluas-luasnya.
Memiliki Rasa Kewarganegaraan yang Tinggi
Selanjutnya dijelaskan tentang hubungan antara perlunya memepelajari Pendidikan Kewarganegaraan dengan memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi. Beberapa paragraf di atas telah mengemukakan bagaimana dan mengapa Pendidikan Kewarganegaran itu menjadi penting untuk dipelajari. Pendidikan Kewarganegaran menjadi penting karena memiliki manfaat yang begitu besar. Sedang memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi tersebut merupakan salah satu manfaatnya.
Sebagai mahasiswa yang menempuh Pendidikan Kewarganegaran akan menjadi tahu betul mafaatnya. Salah satunya adalah menjadi seseorang yang memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi. Hal ini tidak hanya mengenai bagaimana rasa bangga menjadi seorang warga dari sebuah negara, akan tetapi juga mengatahui bagaimana hak dan kewajiban dari seorang warga negara. Jika kita mengerti dan paham betul apa yang di ajarkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan pasti kita akan memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi.
Kita akan menghargai kewarganegaraan yang kita miliki. Kita bangga akan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Tentu saja kita akan paham bagaimana memperlakukan diri kita terhadap negara. Sikap ini berhubungan dengan pentingnya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan yang menjadikan warga negara menjadi aktif, toleran, dan partisipatif. Apapun yang terjadi di Negara kita, kita akan menjadi aktif untuk selalu mendukung. Toleran dengan keberagaman yang dimiliki negara Indonesia. Serta partisipatif dengan hal kebaikan apapun yang diselenggarakan oleh negara.
Rasa kewarganegaraan yang tinggi, akan membuat kita tidak akan mudah goyah dengan iming-iming kejayaan yang sifatnya hanya sementara. Selain itu kita tidak akan mudah menyerap secara langsung budaya yang bukan berasal dari Indonesia dan juga menghargai segala nilai-nilai yang berlaku di negara kita. Memiliki sikap tersebut tentu tidak bisa kita peroleh begitu saja tanpa belajar. Oleh karena itu mengapa Pendidikan Kewarganegaraan masih sangat penting untuk kita pelajari.
Kemudian dapat dipahami bahwa Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting manfaatnya, maka di masa depan harus segera dilakukan perubahan secara mendasar konsep, orientasi, materi, metode dan evaluasi pembelajarannya. Tujuannya adalah agar membangun kesadaran para pelajar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakan sebaik-baiknya dengan cara demokratis dan juga terdidik.
Rabu, 04 Maret 2009
Metode Penelitian Sosial, Tugas Skripsi, Perang Maya Amerikat Serikat Terhadap Irak
Maika Sandra Puspita
NPM. 20060510123
JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2007
PENDAHULUAN
Perang antara Amerika Serikat dan Irak telah berlangsung cukup lama, perang ini dimulai dari tahun 2003. Pertama yang memulai peperangan adalah Amerika Serikat. Alasan yang dimiliki oleh Amerika Serikat ketika mulai mewacanakan serangan ke Irak adalah Amerika Serikat begitu yakin jika Irak mendukung gerakan terorisme dan memiliki program persenjataan pemusnah massal seperti senjata nukilr.(*1) Dengan alasan tersebut maka Amerika Serikat dengan leluasa untuk memporak-porandakan Irak agar dapat mencari bukti seperti yang dituduhkan.
Namun setelah perang antara Amerika Serikat dan Irak ini mulai berakhir, tidak satupun alasan Amerika Serikat yang digunakan untuk menyerang Irak dapat terbukti. Bahkan setelah Irak hancur luluh, bukti tidak kunjung dapat diketemukan. Secara tidak langsung penyerangan yang dilakukan Amerika Serikat tersebut telah membohongi dunia internasional secara besar-besaran dan tentu saja semua hal yang terjadi penuh dengan keanehan. Amerika Serikat berbohong tentang alasannya sedangkan dunia internasional hanya dapat tercengang menyaksikan semua peristiwa yang telah terjadi.
Tentu saja perang ini tidak ubahnya hanya seperti sebuah perang maya atau perang yang berisi khayalan Amerika Serikat belaka. Oleh karena itu penulis tertarik untuk menggunakan Perang Maya Amerika Serikat terhadap Irak sebagai judul skripsi.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan skripsi dari penelitian dengan judul Perang Maya Amerika Serikat terhadap Irak Tahun ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan penjelasan tentang sebab-sebab perang antara Amerika Serikat dan Irak yang secara jelas tidak beralasan.
2. Menguak kebenaran dari alasan yang disembunyikan Amerika Serikat dalam menyerang Irak.
3. Menerapkan teori yang telah dipelajari selama perkuliahan serta dimaksudkan untuk memenuhi syarat akhir dalam penyelesaian studi pada jenjang kesarjanaan pada Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
C. Latar Belakang Masalah
Sebuah peperangan sebenarnya bukan jalan terakhir dalam menyelesaikan masalah, banyak terdapat keburukannya dibanding dengan manfaat yang akan didapat. Sama halnya dengan perang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Irak, invasi yang dimulai oleh Amerika Serikat pada tanggal 19 Maret 2003 hingga 15 April 2003 ini manfaat yang didapat sangat sedikit dibandingkan dengan kehancuran yang terjadi diantara dua pihak tersebut, bahkan awal mula tujuan perang yang dilontarkan juga tidak dapat dibuktikan oleh Amerika Serikat.
Awal mula invasi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak ini karena alasan dari Amerika Serikat yang menyatakan dengan yakin bahwa Irak mendukung gerakan terorisme. Yakni adanya kerjasama antara Saddam Hussein dan Al Qaeda serta rezim Saddam Hussein harus diganti (*2). Kemudian alasan yang paling menonjol yang dikemukakan oleh Amerika Serikat yaitu Irak memiliki program persenjataan pemusnah massal seperti senjata nuklir. Dengan alasan inilah Amerika Serikat menyerang Irak meskipun sebenarnya alasan yang dimiliki oleh Amerika Serikat ini tidak memiliki bukti-bukti yang meyakinkan.
Sebenarnya sebelum Amerika Serikat menyerang Irak, Amerika sedang gencar-gencarnya melawan tindak terorisme. Apalagi seperti yang diketahui Amerika pernah berurusan dengan tindak terorisme yakni ketika Amerika Serikat sendiri mengalami serangan teroris spektakuler 11 September 2001. Namun entah mengapa Amerika Serikat merubah kebijakan pergeseran isu terorisme (Afghanistan) ke pergantian rezim di Irak (Saddam Hussein).
Karena bukti-bukti dari alasan yang dimiliki oleh Amerika Serikat untuk menyerang Irak tidak cukup kuat, Amerika Serikat pada awalnya tidak berhasil menggalang dukungan Internasional. Amerika Serikat gagal memperoleh mandat DK-PBB untuk melakukan aksi militer ke Irak, bahkan sikap negara-negara Eropa terhadap kebijakan Amerika Serikat terpecah (*3). Akan tetapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh negara super power ini, semuanya bisa dilakukan dengan mudah. Akhirnya Amerika Serikat mendapatkan juga dukungan dari beberapa negara, misalnya Inggris, Jepang, dan Australia.
Meski tanpa dukungan internasional yang dominan, Amerika tetap melakukan aksi militer di Irak. Apa yang didapat Amerika Serikat setelah menyerang Irak? Apakah tuduhan Amerika Serikat terhadap Irak dapat terbukti? Dan jawabannya adalah tidak. Amerika Serikat sama sekali tidak mendapatkan bukti dari apa yang dituduhkan terhadap Irak. Senjata pemusnah massal tidak ditemukan dan keterkaitan hubungan Saddam Hussein dengan al Qaeda juga tidak terbukti. Sedangkan yang didapatkan Amerika Serikat hanya satu, Amerika Serikat dapat menumbangkan Saddam Hussein dan menyebarkan nilai-nilai demokrasi di Irak. Selain itu satu hal yang sangat menguntungkan Amerika Serikat dari peperangan itu, Amerika Serikat dapat memperoleh akses minyak dari Irak.
Universalisasi nilai-nilai demokrasi diharapkan menyebar di seluruh kawasan. Perang Amerika Serikat dan Irak ini sekaligus dimaksudkan sebagai “pesan” bagi ”rogue states” (negara-negara bengal) disekitarnya: barang siapa tidak tunduk pada kemauan Amerika Serikat, akan mengalami nasib yang sama seperti Irak (*4).
Dari hasil yang diperoleh Amerika Serikat dalam aksi militernya di Irak yang tidak dapat membuktikan apapun, pada akhirnya Amerika Serikat mengakui bahwa alasan untuk menyerang Irak sama sekali tidak benar. Seperti yang dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat George Walker Bush bahwa mantan Presiden Irak Saddam Hussein tidak terkait sama sekali dengan serangan teroris spektakuler 11 september 2001, dan juga telah mengakui tidak benar tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal seperti nuklir (*5). Bahkan Presiden Bush tetap membenarkan atas Perang Irak, sekurang-kurangnnya untuk kepentingan politik dalam negeri menjelang pemilihan parlemen pada bulan November 2006 (*6). Dengan apa yang diungkapkan oleh Presiden Bush tersebut, seharusnya Amerika Serikat merasa malu.
Dengan demikian perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat ini layaknya seperti perang untuk mendukung kebohongan atas alasan yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Semua alasan yang dilontarkan Amerika hanya seperti sebuah angan-angan ataupun khayalan belaka. Perang Amerika Serikat-Irak ini seperti perang maya yakni perang tanpa wujud yang jelas.
D. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut di atas maka penulis dapat menggaris bawahi yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Mengapa Amerika Serikat tetap menyerang Irak meski alasan untuk menyerang Irak hanyalah suatu kebohongan?”
E. Kerangka Dasar Teori
Seperti yang terdapat pada karya ilmiah lainnya, maka dalam penulisan Skripsi ini juga dibutuhkan suatu kerangka dasar teori. Kerangka dasar teori digunakan untuk membantu penulis dalam menentukan tujuan serta arah penelitian dalam memilih konsep yang tepat guna membentuk hipotesa. Sedangkan teori pada umumnya bukan pengetahuan yang pasti, akan tetapi teori adalah sesuatu pendapat yang dikemukakan sebagai sesuatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa ataupun kejadian (*7).
Teori dapat dikatakan sebagai suatu pandangan atau persepsi tentang apa yang terjadi, menjelaskan mengapa itu terjadi dan mungkin juga meramalkan kemungkinan berulangnya kejadian itu di masa depan (*8). Teori-teori menceritakan pada kita fakta-fakta mana yang penting dan mana yang tidak penting, yaitu mereka menyusun pandangan kita atas dunia (*9).
Teori Perang
Perang atau peperangan bila kita telaah secara logika, perang itu bentuk lain dari perseteruan. Perseteruan ini dapat terjadi bila melibatkan dua pihak yang berbeda dan saling berlawanan paham. Biasanya perang sebagai bentuk perseteruan timbul dari kesalah pahaman antara kedua pihak. Sulit dijelaskan memang, mengapa kesalah pahaman begitu mudah terjadi. Terkadang kesalah pahaman yang terjadi hanya disebabkan dari hal-hal yang biasa, sederhana, atau bahkan sesuatu hal yang bersifat remeh. Namun dari hal yang sederhana inilah timbul masalah sebagai akibat dan masalah besar seperti perang akan begitu mudah terjadi. Dimisalkan saja seperti kasus perang saudara yang terjadi di Poso, perang tersebut terjadi hanya karena ada kesalah pahaman antara dua orang atau dari dua pihak yang berbeda agama. Apa akibat dari salah paham tersebut? Perang saudara antar agama terjadi, korban begitu banyak berjatuhan, tidak peduli siapa saja orangnya yang berbeda agama pasti dihabisi. Tentu saja trauma yang dirasakan oleh masyarakat dari perang tersebut tidak bisa reda hingga kini.
Arti perang sendiri menurut Kamus Oxford yakni “Instance or period of armed fighting between countries” yang bila diterjemahkan menjadi: perang adalah pertempuran bersenjata antar negara secara langsung ataupun berperiode (*10). Sedang arti perang menurut A. J. P Taylor seperti dikutip di bawah ini:
“Perang kebih mirip seperti kecelakaan lalu lintas. Perang mempunyai sebuah penyebab umum dan sebuah penyebab khusus pada saat yang sama. Setiap kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh penemuan mesin dengan pembakaran internal …. (Tetapi) polisi dan pengadilan tidak mempertimbangkan penyebab mendasar ini. Mereka mencari penyebab khusus untuk masing-masing kecelakaan – kesalahan pengemudi, kecepatan yang melebihi batas, mabuk, rem yang tidak berfungsi dengan baik, dan juga kondisi jalan. Begitu juga dengan perang. (A. J. P. Taylor, dikutip dalam Hugh Miall, dkk, 2002: 151) (*11)
Dari kedua teori ini arti dari perang menjadi sesuatu hal yang rumit, sebenarnya hanya berasal dari sesuatu yang sederhana namun menjadi sangat besar akibatnya.
Selanjutnya berbicara mengenai sebab-sebab terjadinya perang. Sebab-sebab terjadinya perang harus berdasar pada asumsi pokok dan jelas. Menurut Walter S. Jones sebab terjadinya perang tidak hanya dari peristiwa-peristiwa politik, melainkan juga dari motif-motif ekonomi, kelompok etnik dan rasial, perbedaan-perbedaan budaya dan antropologis, kepribadian individual, serta terkadang dari psikopatologi (*12). Disini jelas bahwa sebab terjadinya perang memang tidak hanya tentang hal-hal yang berbau politik saja, seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang.
Lain halnya yang dijelaskan oleh Suganami tentang penyebab perang (dikutip dalam Hugh Miall, dkk, 2002: 154), Suganami mengidentifikasikan tiga kondisi yang secara logis diperlukan yang dapat menyebabkan perang terjadi: kemampuan manusia untuk membunuh anggota spesies mereka sendiri, meratanya keyakinan diantara sejumlah masyarakat, dalam negara tertentu bahwa ada penyebab yang merupakan fungsi mereka untuk melakukan tidakan bersenjata terhadap yang lain, dan dalam melakukan ini memerlukan kerja sama antar anggota masyarakat (tanpa ini tidak akan terjadi konflik bersenjata antara masyarakat yang terorganisasi), dan tidak adanya sistem internasional yang secara sempurna bersifat efektif sebagai sarana anti perang (*13).
Hal yang disebutkan diatas sungguh mengejutkan, karena sebab terjadinya perang pada kebanyakan bukan karena situasi atau keadaan yang memang mengharuskan perang itu terjadi, namun perang itu terjadi juga karena keinginan manusia sendiri. Psikologi manusia yang mudah terpancing emosinya dan juga kerena sifat dasar yang dimiliki manusia itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Thomas Hobes yakni “Hommo Homini Lupus” atau manusia berkeinginan untuk mengusai manusia yang lainnya. Sungguh ironi memang, sebagian manusia berusaha untuk mendukung perdamaian, namun sebagian orang justru terus berusaha mencari masalah atau membuat masalah.
Seperti halnya tentang terjadinya perang antara Amerika Serikat dan Irak. Entah mengapa yang semula Amerika Serikat tidak bermaksud menyerang Irak kemudian melakukannya. Karena sewaktu-waktu keinginan itu dapat berubah. Amerika dan Irak memulai peperangan karena Amerika Serikat meyakini bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal dan senjata ini dapat membahayakan umat manusia. Kemudian terjadilah perang yang besar antara Amerika Serikat dan Irak. Kerugian terjadi di sani-sini, tidak hanya Irak yang rugi sebagai negara yang diserang, tetapi juga Amerika Serikat.
Kejanggalan kemudian terjadi, apa yang dituduhkan oleh Amerika Serikat terhadap Irak sebelum memulai peperangan sama sekali tidak dapat terbukti. Amerika Serikat bahkan mengakui akan ketidak benaran dari alasan yang diberikan untuk memulai perang dengan Irak. Akhirnya perang ini menjadi perang yang amat sia-sia. Perang ini perang yang penuh ambisi akibat khayalan yang terlalu berlebihan yang dimiliki oleh Amerika Serikat.
Terlihat jelas disini, jika yang sangat diuntungkan dari perang ini adalah Amerika Serikat sendiri, meskipun alsan tentang adanya senjata pemusnah massal tidak benar, setidak-tidaknya Amerika dapat menumbangkan rezim otoriter Saddam Hussein. Selain itu Amerika juga dapat menguasai ladang minyak di Irak dan tentu saja untuk kepentingan dalam negeri Amerika menjelang pemilihan parlemen pada November 2006.
F. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan kernagka dasar teori tersebut di atas maka dapat diambil sebuah hipotesis sebagai berikut:
“Amerika Serikat tetap melakukan penyerangan terhadap Irak meski alasannya tidak benar karena tiga hal. Pertama, serangan terhadap Irak dianggap sebagai bagian dari kampanye melawan terorisme dan rezim otoriter. Kedua, Amerika Serikat ingin memperoleh akses minyak dari ladang minyak yang ada di Irak. Ketiga, serangan terhadap Irak ini untuk kepentingan dalam negeri Amerika Serikat menjelang pemilihan parlemen November 2006”.
G. Jangkauan Penelitian
Penulis mengambil jangkauan waktu penulisan antara tahun 2003-2006 yaitu saat awal perang Amerika Serikat-Irak dan sebab-sebab terjadinya perang tersebut hingga tentang pengakuan Amerika Serikat mengenai ketidak benaran alasan yang dipunyai untuk menyerang Irak. Akan tetapi tentang hal-hal sebenarnya yang dimiliki Amerika Serikat untuk menyerang Irak turut menjadi perhatian penulis.
H. Teknik Pengumpulan Data
Untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penulisan skripsi ini, maka penulis menggunakan metode Library Research atau studi kepustakaan dengan berbagai literatur, koran, dan majalah, serta penggunaan Media Release yaitu internet.
I. Sistematika Penulisan
Sitematika dan penyusunan skripsi ini dibagi dalam lima bab. Secara garis besar dibawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai sistematika penulisan skripsi ini.
BAB I
Dalam Bab I ini, yakni Bab Pendahuluan, memuat alasan pemilihan judul, tujuan penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, kerangka dasar teori, hipotesis, jangkauan penelitian, teknik pengumpulan data, dan sistematika penulisan.
BAB II
Dalam Bab II akan dijelaskan tentang perang antara Amerika Serikat-Irak adalah bagian dari kampanye untuk melawan terorisme dan juga menghapus rezim otoriter Saddam Hussein di Irak
BAB III
Dalam Bab II akan dijelaskan mengenai kebohongan Amerika Serikat tentang alasan untuk menyerang Irak dan juga tentang keinginan Amerika Serikat untuk mendapatkan akses minyak dari Irak.
BAB IV
Dalam Bab IV akan dijelaskan bahwa serangan terhadap Irak adalah bagian dari kepentingan dalam negeri Amerika Serikat menjelang pemilihan parlemen pada November 2006, serta dampak dari perang Amerika Serikat-Irak.
BAB V
Bab terakhir adalah Bab V, berisi kesimpulan dari apa yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya yang dirangkum dalam satu rumusan.
Keterangan:
(*1) KOMPAS, 14 September 2006
(*2) www.kompas.com, 12 juni 2006
(*3) Dr. N. Hassan Wirajuda, Hubungan Internasional: Percikan Pemikiran Diplomat Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004, hal. 179-180.
(*4) Ibid., hal. 181.
(*5) KOMPAS, 14 September 2006
(*6) Ibid., 14 September 2006
(*7) Dessy Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Karya Abadi Tama, Surabaya, 2001, hal. 513.
(*8) Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, PT. Pustaka LP3S Indonesia, Jakarta, September 1994, hal. 185.
(*9) Robert Jackson dan George Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Februari 2005, hal. 81.
(*10) Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Oxford University Press, Hongkong, 1995, hal. 464.
(*11) Hugh Miall, dkk, Resolusi Damai Konflik Kontemporer: Menyelesaikan, Mencegah, Melola dan Mengubah Konflik Bersumber Politik, Sosial, Agama dan Ras, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, Januari 2002, hal. 151.
(*12) Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional: Kekuasaan, Ekonomi-Politik Internasional, dan Tatanan Dunia 2, PT Gramedia Pustaka Utama, 1993, hal.178.
(*13) Hugh Miall, dkk, op.cit., hal. 154.
Senin, 09 Februari 2009
Kuliah Hari Pertama Di UMY
.png)
